Semoga ini berakhir di Aku
ini kisah gadis cilik yang sering kali menganggap keputusannya benar namun nyatanya tidak.
gadis naif yang begitu haus akan perhatian dan kasih sayang orangtua.
anak kecil yang diajarkan dewasa sejak dini. Mungkin sebagian orang menganggap berlebihan, atau mungkin yang baik bersimpati, dan manusia kejam akan mengatakan masalah begitu aja ga berat.
aku akan sampaikan pada gadis cilik ini kisahmu menyedihkan, tidak ada rumah padahal memiliki rumah, tidak ada orang dewasa yang melindungi padahal hidup dikelilingi orang dewasa, tidak ada orangtua padahal masih utuh. Ntah apakah ini kisah yang lebih berat dari memikul hutang ratusan juta, namun yang pasti kisah ini tiada akhir karena kisah ini dimulai sejak kapan tidak tahu dan berakhir kapan juga tidak tahu.
Sebut saja arti namanya wanita cantik yang membawa kebahagiaan bagi banyak orang- Mungkin benar, tapi sayangnya yang dikorbankan kebahagiaannya sendiri. Kehidupan seperti apa sebenarnya yang ia inginkan sudah musnah dari ingatannya semenjak perubahan sikap orangtua nya yang secara nyata diskriminasi bahwa ia manusia yang bakal gagal di masa depan jika ia berusaha untuk merubah nasib dan menentukan arah hidupnya sendiri.
Arti nama itu diketahuinya ketika SMP salah seorang guru bertanya apa arti nama murid-muridnya. Sayangnya, ada sedikit rasa sedih sebenarnya dikala ia bertanya pada kedua orangtuanya apa arti namanya. Tawa renyah dan seolah nama itu lucu menyakitkan hatinya, terlebih kala ia diberitahu bahwa nama belakangnya adalah nama bus di tahun 90'an.
'Apakah namaku diberikan asal saja?' atau 'apa mereka tidak berpikir bahwa nama adalah doa' atau paling jauh pikirannya berkelana 'oh, namaku tidak disiapkan dengan baik seperti kedua kakakku".
Saat ini, usianya telah menginjak 26 tahun. Seharusnya pikiran dia sudah ke kehidupannya yang baru, keluarga kecilnya. Namun satu pernyataan orang yang paling dia hormati dan sayangi menghancurkan kepercayaan dirinya dan identitas dirinya yang dengan susah payah gadis itu bangun sendiri dengan kaki mungilnya. pernyataan apa itu?
"tiap dia main ke rumah selalu aku marahi, aku bentak-bentak dia supaya ga main ke rumah terus" ucap Ibu nya tanpa rasa bersalah.
"kemarin dia main ke rumah, mau minjam duit 20 jt. nangis-nangis dia mohon, ga aku pinjemin. aku marahi dia trus dia pulang. Enak aja pinjem dikira gampang cari duit, nanti ga bisa dibalikin kayak 8 jt kemarin" Kata Ibu nya di tongkrongan ibu-ibu komplek dan dihadapan ibu mertua gadis itu.
dan masih banyak hal lain yang ia lontarkan dengan lantang dan bangga. Gadis itu tidak mau menghiraukan yang lain, ntah pernyataan Ibu nya membuat musuh lebih banyak atau aib diri sendiri dia sudah tidak peduli dan masih bakal tetap menyayangi orangtuanya hingga dua pernyataan yang barusan menjadi titik gadis ini sadar.
'Oh selama ini Ibuku tidak menyukaiku'.
Sejak kapan?
semua kenangan buruk selama 20 tahun dia tinggal di rumah itu berputar seperti kaset rusak dikepalanya, berulang terus-menerus.
Sejak kapan aku dibuang orangtuaku? Sejak kapan mereka tidak mengharapkanku? sejak kapan aku tidak disayang?
Saat kelas 2 SD itukah kala aku dituduh mencuri uang beliau di rumah karena hilang di lemari -Jujur aku tidak tahu dan tidak pernah mencuri uang orangtuaku.
atau saat aku ditampar keras di depan umum hanya karena main dari pulang sekolah hingga sore tanpa memberi kabar? -aku masih kecil dan sudah diajarkan pulang pergi naik angkot sendiri jadi aku mengartikan bahwa aku sudah dewasa, mana aku tahu itu tidak boleh. Tapi harusnya tidak harus sampai ditampar di depan tetangga juga, merah dan sampai usia ini aku masih ingat.
Sebentar, jika direnungkan sejenak tamparan Ibu sangat menyakitkan. Seharusnya tenaga itu ia gunakan untuk menghajar anak-anak yang merundung gadis itu di sekolah dulu, namun tidak. Sepertinya beliau lebih superior jika menghajar anak-anaknya sendiri.
atau saat aku tidak diizinkan kuliah? atau saat aku mulai masuk usia remaja dan diminta mengerjakan semua pekerjaan rumah? atau saat aku disuruh menikah?
Ternyata semua hal yang terjadi 20 tahun di rumah itu membuatku trauma. Yap, aku gadis cilik tersebut. Memang benar di rumahku sempat ada pembantu namun di masa SMP sepertinya aku benar-benar kesal. Maksudku adalah kan Ibu sudah membayar pembantu lalu mengapa aku dan kakak keduaku masih harus dimarahi karena tidak berbersihan rumah, tidak mencuci baju, tidak mencuci piring, tidak buang sampah, tidak melipat baju dan lainnya pekerjaan rumah tangga. Alhasil aku mendumel yaudah pecat saja pembantu kalau masih harus kita yang mengerjakan bayar kita aja. Sayangnya yang diterima hanya pecat pembantu dan naas nya aku tidak mendapatkan gaji. Bukan maksudku ingin perhitungan namun kala aku tidak bisa membantu, maka kala itu aku akan dimarahi abis-abisan padahal aku masih anak sekolah, aku banyak kegiatan sekolah yang ingin aku ikuti dan juga butuh waktu istirahat. Melihat orang tua orang lain kadang iri saat orangtua mereka mengerti bahwa sekolah sudah menguras energi anak dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore lalu ingin dilanjutkan dengan pekerjaan rumah jadi kapan anak ini beristirahat?
Ibuku selalu membanding-bandingkan aku dengan orang lain terlebih orang-orang yang maaf dikata tidak ada prestasi di sekolah, tidak lebih baik dariku hanya saja mereka berparas cantik punya pacar biasa mengasuh adiknya dan suka berberes rumah dibandingkan belajar dan berorganisasi. Wataknya saja sudah beda, parasnya sudah beda hobinya pun berbeda tapi selalu aku yang kalah dan salah.
Aku tidak suka pekerjaan beres-beres rumah karena itu melelahkan dan tiada akhir. aku suka berorganisasi, suka belajar, suka diskusi, suka olahraga tapi tenagaku terbatas. aku tidak bisa melakukan apa yang aku suka jika tenagaku sudah dihabiskan untuk hal yang tidak aku suka. pekerjaan rumah itu melelahkan.
Ayahku tidak beda, ia tidak berpihak padaku. Kedua orangtuaku sepakat inginnya aku menikah. Mereka tidak butuh dan tidak berharap aku memiliki karier bagus, uang banyak, paras rupawan karena yang menjadi keinginan terakhir mereka anak-anaknya menikah.
Terlebih aku.
hampir saja aku dipaksa berhenti kuliah jikalau calonku ingin menikahiku segera setelah perkenalan. Ya, aku menikah hasil dari dipertemukan orangtua.
Aku kira jika aku menikah semuanya berakhir. Perselingkuhan Ibuku berakhir, Ayah terpenuhi keinginannya dan dapat bercerai dari Ibu, Kebun atau orang perusak rumah tangga itu hilang dari kehidupan kami. Aku bisa melanjutkan cita-citaku menjadi wanita karir, aku bisa punya rumah, punya status sosial, kebebasan. Sayangnya tidak.
Menikah bukan solusi.
Bagi pria menikah adalah awal kehidupan, ia mendapatkan surga dunia yakni dilayani lahir dan batin. Mendapatkan semangat hidup untuk berjuang.
Bagi wanita menikah adalah akhir kehidupan, ia tidak bisa mengepak sayap untuk terbang tinggi. melamar kerja ditolak karena sudah menikah, ingin lanjut kuliah tidak bisa jika tidak ada biaya, uang dan keinginannya terbatas sesuai dengan kemampuan dan izin pasangan. ingin bebas dari pekerjaan rumah tidak mungkin jika bukan konglomerat atau orang kaya atau orang dermawan yang dinikahinya.
Wanita melepaskan identitas dirinya dan menjadi 'IBU' hingga akhir hayat.
aku mengatakan ini bukan karena aku tidak menyukai tittle tersebut, bukan berarti pula semua wanita menjadi redup setelah menikah. Aku hanya ingin semua orang mengerti bahwa yang dikorban wanita bukan hanya tubuh tapi juga jati diri.

Komentar
Posting Komentar
kritik dan saran yang membangun dari para readers akan sangat saya hargai untuk membuat cerita maupun blog ini menjadi lebih baik lagi.